Tuesday, July 21, 2009

Nikmat Membawa Sengsara

Apabila suatu reseptor indra seperti indra perasa, dihadapkan pada rangsangan secara terus menerus, impuls-impuls akan berjalan dg cepat dan rapat sepanjang urat-urat saraf dan mungkin akan saling menekan terhadap kesadaran kita. Namun frekuensi yg tinggi ini akan menurun jika rangsangan tetap tidak berubah (monoton). Pada waktunya, kita tidak akan sadar lagi terhadap rangsangan itu. Contohnya, kalau Anda tiba2 keluar ruangan di siang hari, di saat kulit Anda tersentuh sengatan panas matahari, syaraf Anda mengirimkan sinyalnya ke otak dan meresponnya dg cepat sehingga reaksinya Anda akan kepanasan dan berlari. Tetapi, jika Anda memulai keluar ruangan sejak pagi hari, maka ketika siang hari, Anda tidak akan merasakan atau menyadari sengatan matahari. Rasa panas pada kulit sebenarnya sedang berlangsung, tetapi otak Anda mengabaikannya karena sistem konduksi sudah stabil. Contoh lain ialah dari reseptor hidung terhadap penciuman kita. Mungkin Anda pernah melihat orang yg bekerja menjadi tukang sampah. Setiap hari mereka mengumpulkan sampah, lalu memasukkan ke dalam truk sampah. Bahkan selanjutnya mereka naik ke atas tumpukan sampah yg baunya menusuk hidung. Bagi kita yg melintas truk sampah tersebut akan mencium bau yg menyengat. Namun, bagi pekerja sampah, ia sudah mengalami resisten terhadap bau tersebut.

Hal ini juga di alami oleh orang2 yg biasa hidup mapan. Banyak orang tinggal di kawasan elit di kota2 besar, yg akhirnya kembali mencari sensasi otaknya untuk menimbulkan rasa nikmat dg pergi ke puncak gunung, makan ala kampung, atau mencari suasana baru lainnya. Sehingga tidak jarang restoran2 besar menampilkan gaya tradisional dg menyuguhkan menu kampung asli, sambal terasi yg masih di sediakan di atas cobek tembikar (sambal dadakan), tempat nasi terbuat anyaman bambu, sendok nasi dari tempurung kelapa. Restorannya pun di-setting seolah gubuk bambu beratap rumbia yg biasa dibuat di tengah sawah untuk beristirahat bagi para petani sehabis penat mencangkul.

Sebenarnya kenikmatan yg dirasakan oleh otak manusia bisa timbul, apabila otaknya dibuat bermain-main. Selalu dibuat sensasi agar tidak stabil yg membuat respon otaknya seolah menangkap hal baru. Maka wajarlah kalau manusia bisa betah bermain selancar di laut, memancing ikan sampai berjam2 lamanya, bermain golf bisa seharian penuh, dan banyak lagi permainan untuk menstimulus sensasi kimiawi di otak agar muncul rasa nikmat (pleasure). Inilah kehidupan dunia. Puncak2 nya, ya, hanya main2 (lahwun wala'ibun). Tanpa main2 mereka tidak menemukan kenikmatan sama sekali. Pada akhirnya kita kembali seperti anak kecil yg senang bermain. Perkumpulan motor besar, perkumpulan mobil tua, ada juga yg senang mengoleksi barang2 souvenir dari luar negeri, berupa keramik, replika boneka tokoh, dan lain2. bagi orang2 hedonis, puncak yg menyenangkan baginya adalah pergi ke diskotik dan berdansa, kemudian mabuk sampai pagi. Tanpa disadari kehidupan mereka hanyalah mencari sengsara untuk mendapatkan kenikmatan, mencari kenikmatan untuk kesengsaraan selamanya.

Secara fitrah, manusia sesungguhnya ingin menemukan tempat kembali untuk beristirahat dikala capek dan penat. Baik capek fisik maupun capek pikiran. Bagi yg tidak mengenal dunia spiritual, mereka berusaha mencari ketenangan dg cara yg bersifat materi atau kebendaan. Sedangkan bagi orang2 beragama, mereka menemukan kebahagiaanya melalui pembebasan pikiran dan egonya dg berdzikir kepada Allah.

No comments:

Post a Comment

Kami menghargai komentar anda